Langsung ke konten utama

Jati



Keterbatasan yang  jelas mengahambur cepat didalam  kawah ini semakin menenggelamkan kekeluan jati yang tiada habisnya di kikis masa.. keterpurukan yang semakin menjadi dan terus membenamkan risalah yang tak kunjung usai. Apakah terjangkau oleh titik peka?
Mimpi ini masih terbentang luas, aku masih bersemayam dalam malam tanpa titik kepastian, mematung dan sudut pandangan sayu, meredup cahaya retina ku karena kegelapan cerita yang selalu bertebaran dalam benak dengan segudang tanya dihati.
Masihkah keraguan akan menyelimuti setiap sudut perasaan? Senandung kata yang terjulur lewat lidah terburai, begitu mudah memuntahkan segala getaran nada yang bertahta bak sang raja, berani membunuh dengan sebilah lidah tajam menusuk hingga mati. Aku bukan pesaktian dalam istana, menyibak luka ini semakin menjerumuskan dalam kegelapan. Kebodohan adalah kunci kepiawaian orang seperti mu. Kepalsuan yang transparan membuat aku tak ayal lagi buta akan rayuan pahit.
Kegersangan yang melanda telah kebas di telan cinta yang tertuang lewat asa. Sangat indah sekali terasa ke relung hati, meyapu segala gundah yang pernah menjamur luas. Setiap nada berubah menjadi merdu. Tapi sayang hanya bermula dari ujung senja hingga sang surya menyadarkan bahwa fajar menjelang..
Memang sedikit sekali kenyataan yang terengkuh, hanya kau aku ada. Dan cukup untuk menguak lengkung bibirku tiap hari nya.. kelopak mata yang menyipit karena tergugat hati atas ungkapan yang terjulur dari sudut bibir mu.
Mengepak bahagia disetiap senja menjemput, kasih mu mengambang di lautan mimpi, buih cinta menebar dan menempati ruang. Tapi tak satu pun terjemput oleh kuku tangan. Hanya terhunus sorot retina tanpa dapat terengkuh.
Lagi dan lagi aku terhanyut jauh dalam kubangan waktu yang terus mengejar asa yang tak pernah berlari. Mengingat sayap dari surga tak kunjung tiba, aku merapuh dalam senggurat awan yang menjingga, kemanakah peradaban ini dilabuhkan??? Membaca hati yang selalu kabur, tidak akan mebuatku bersandar terhadap cinta ini.
namun, setiap tarian kata yang tertuang adalah keindahan,  benar benar melambungku hingga tinggi dan selalu mengangkatku, ketika aku merengkuh segala rasa, biarkan aku didalamnya. Hingga aku tenggelam, jauh dari dasar kenyataan. Aku menikmati, setiap hembusan cinta yang tertiup, aku merasakan setiap semilir kasih yang meliuk melewati hati dan kerinduan ini.
Kerap kali sanubari ku bergetar seirama nurani membuncah dalam anyaman harapan asa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiada Perlu Bertanya

sembilu dihati bukan suatu apa jikalau kau tahu bingunglah mengapa maka meringkuk batin kecut tawa mu pedih segala singgah dalam hati mengapa bertanya jika tiada tersirat?

sepeninggal bunda

daduh  gaduh suara ricuh panik pancar dari segala mata jauh-jauh sayup suara tinggi rendah gelegar dayu tangis sesekali mengucap berlinang linang habis lah sudah mengapa? daku tanya bukan siapa itu harap cemas bukan bunda ku mati kaku kaki ku jatuh derai isak gema panjang nyata sudah rupa siapa benar sudah jasad hanya hilang napas, hilang suara aduh hatiku hatiku berduka raya lenyap dia yang dilihatnya

berkisah

Merapat bunyian menusuk hati, Ungkap lidah lidah tiada secercah pikir Kusam senggurat wajah menggusur lengkungan bibir Menyelam pedih menghuni sudah Membuncah duka sebenar apa pun tiada peduli Gores! Habis memborok disana Ya, benar ini luka. Meringkuk perasaan tiada ingin muka muka keji tersebut Lain kisah pula Mendekat peraduan menopang ragu Dengan penggawa tiada luput cindai Singgah inayat lepas belenggu Resah terebah sudah dengan yang damping Tegah pedih dihunian nya