Keterbatasan yang jelas mengahambur
cepat didalam kawah ini semakin
menenggelamkan kekeluan jati yang tiada habisnya di kikis masa.. keterpurukan
yang semakin menjadi dan terus membenamkan risalah yang tak kunjung usai. Apakah
terjangkau oleh titik peka?
Mimpi ini masih terbentang luas, aku masih bersemayam dalam malam
tanpa titik kepastian, mematung dan sudut pandangan sayu, meredup cahaya retina
ku karena kegelapan cerita yang selalu bertebaran dalam benak dengan segudang
tanya dihati.
Masihkah keraguan akan menyelimuti setiap sudut perasaan? Senandung kata
yang terjulur lewat lidah terburai, begitu mudah memuntahkan segala getaran
nada yang bertahta bak sang raja, berani membunuh dengan sebilah lidah tajam
menusuk hingga mati. Aku bukan pesaktian dalam istana, menyibak luka ini
semakin menjerumuskan dalam kegelapan. Kebodohan adalah kunci kepiawaian orang
seperti mu. Kepalsuan yang transparan membuat aku tak ayal lagi buta akan
rayuan pahit.
Kegersangan yang melanda telah kebas di telan cinta yang tertuang
lewat asa. Sangat indah sekali terasa ke relung hati, meyapu segala gundah yang
pernah menjamur luas. Setiap nada berubah menjadi merdu. Tapi sayang hanya
bermula dari ujung senja hingga sang surya menyadarkan bahwa fajar menjelang..
Memang sedikit sekali kenyataan yang terengkuh, hanya kau aku ada. Dan
cukup untuk menguak lengkung bibirku tiap hari nya.. kelopak mata yang menyipit
karena tergugat hati atas ungkapan yang terjulur dari sudut bibir mu.
Mengepak bahagia disetiap senja menjemput, kasih mu mengambang di
lautan mimpi, buih cinta menebar dan menempati ruang. Tapi tak satu pun
terjemput oleh kuku tangan. Hanya terhunus sorot retina tanpa dapat terengkuh.
Lagi dan lagi aku terhanyut jauh dalam kubangan waktu yang terus
mengejar asa yang tak pernah berlari. Mengingat sayap dari surga tak kunjung
tiba, aku merapuh dalam senggurat awan yang menjingga, kemanakah peradaban ini dilabuhkan???
Membaca hati yang selalu kabur, tidak akan mebuatku bersandar terhadap cinta
ini.
namun, setiap tarian kata yang tertuang adalah keindahan, benar benar melambungku hingga tinggi dan
selalu mengangkatku, ketika aku merengkuh segala rasa, biarkan aku didalamnya.
Hingga aku tenggelam, jauh dari dasar kenyataan. Aku menikmati, setiap hembusan
cinta yang tertiup, aku merasakan setiap semilir kasih yang meliuk melewati
hati dan kerinduan ini.
Kerap kali sanubari ku bergetar seirama nurani membuncah dalam
anyaman harapan asa.
Komentar
Posting Komentar